Berita Eksklusif, Surya Darma: Pemanfaatan Energi Hijau di Indonesia Belum Maksimal
Surya Darma. (Foto Savic Rabos, DI Raga VOI)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Penggunaan energi fosil yang saat ini masih dominan di Indonesia, perlahan-lahan akan digeser dengan energi hijau yang terbarukan. Namun saat ini kata Surya Darma, PhD., Dipl. Geotherm.Tech., langkah ke arah itu masih harus melalui jalan yang berliku. Penyebabnya belum ada kesatuan irama dalam upaya pemanfaatan energi yang ramah lingkungan ini. Padahal Undang-Undang No 30 Tahun 2007 tentang energi sudah mengatur arah dan kebijakan energi nasional.

“Yang menjadi prioritas adalah energi terbarukan karena kita punya potensi itu. Kami mengusulkan Komisi Energi Nasional yang dipimpin oleh Wakil Presiden. Dalam pembahasan namanya berubah menjadi Badan Energi Nasional yang dipimpin oleh Presiden. Akhirnya tidak efektif karena presiden menyerahkan tugas ini kepada Menteri ESDM. Perencanaan sudah ada tapi eksekusinya tidak konsisten,” kata Surya Darma yang menjadi ketua tim perumus UU Energi.

Pemanfaatan Energi Hijau di Indonesia Belum Maksimal

Menurut Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Energi Terbarukan ini, pemerintah tidak fokus menangani persoalan energi terbarukan ini. Ia menyarankan agar pemerintah dan semua pihak untuk mengacu kepada UU yang sudah ada. Dan untuk melakukan hal ini harus ada political will yang kuat dari pemerintah.

Dia yakin dengan memanfaatkan energi hijau bisa menjadi pengganti energi fosil. “Kita punya energi terbarukan luar biasa besar, yang sudah dirilis aja sekarang itu ada 400gw. Kalau dibandingkan dengan kebutuhan listrik nasional itu sekarang hanya 70gw, 400gw kan jauh banget,” katanya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menemuinya di Jakarta Golf Club, Rawamangun, Jakarta Timur belum lama ini. Inilah pertikan selengkapnya.

Apa problemnya sehingga pemanfaatan energi hijau atau energi terbarukan di Indonesia belum maksimal?

Saya kira kalau kita bicara energi itu harus bicara manajemen. Dalam manajemen itu ada fungsi perencanaan, mengorganisasikan, mengeksekusi dan ada evaluasi. Dari hasil ini bisa dilihat apa ada perencanaan yang belum tepat atau perencanaan yang harus dimodifikasi kembali sampai kemudian mencapai target.

Kalau kita lihat di Indonesia ini sejak tahun 1980-an memang belum ada sebuah perencanaan yang baik dalam konteks energi. Mau dibawa ke mana pengolahan energi ini. Yang lebih banyak dilakukan itu adalah menyelesaikan masalah yang timbul, bukan sebuah perencanaan jangka panjang. Bicara soal perencanaan jangka panjang kita bisa melakukan analisa SWOT. Kekuatan kita apa, kelemahan kita apa, potensi kita apa. Kemudian apa saja hambatan-hambatannya. Nah kalau kita bisa membuat ini kita akan bisa menuju kepada sebuah target atau harapan dalam pengelolaan energi itu akan jauh lebih baik.

Baca selengkapnya di: Eksklusif, Surya Darma: Pemanfaatan Energi Hijau di Indonesia Belum Maksimal