Hariyadi Sukamdani: Pengusaha Hotel Seperti Pesakitan Menunggu Regu Tembak
Hariyadi Sukamdani. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Pernyataan pria bernama komplit Dr. Ir. Hariyadi Budi Santoso Sukamdani, MM., ini tak berlebihan. Sebagai Ketua Umum PHRI dia menyatakan situasi sesungguhnya yang terjadi. Ribuan hotel yang tersebar di penjuru Indonesia seharusnya ditutup oleh pemiliknya sebab okupansi hotel menurun drastis dihantam pandemi COVID-19.

Dalam sebuah video conference medio 2020 silam Presiden Direktur PT. Hotel Sahid Jaya International Tbk., ini pernah menyatakan data soal hotel yang tidak kuat bertahan menghadapi gelombang pandemi ini. Ada 1.642 hotel yang seharusnya tutup dan 352 resto yang berada di bawa naungan PHRI. Ingat itu data bulan April 2020. Data itu pasti berubah signifikan di tahun 2021 ini. Sayang ia belum dapat berbagi data lebih terperinci perihal jumlah hotel dan cafe yang seharusnya stop beroperasi di masa pandemi COVID-19 dan PPKM Darurat ini.

Pendapat Hariyadi Sukamdani

Jadi bagaimana dengan data terbaru soal hotel dan restoran yang tutup? “Saya belum bisa menginformasikan data terbaru soal hotel dan restoran yang tutup, nanti kalau sudah ada datanya kita akan infokan. Data terakhir di bulan Mei 2020 jumlah hotel yang tutup itu sudah lebih dari 2.100 hotel. Tapi sekarang sudah banyak yang buka kembali meski beroperasi dalam kondisi merugi,” ungkapnya.

Cuma meski memberikan kabar yang optimis, pria kelahiran Jakarta, 4 Februari 1965 memberikan perumpamaan yang amat menyedihkan soal realitas yang terjadi pada rekan-rekannya yang tergabung dalam PHRI. “Pengusaha hotel itu sudah seperti pesakitan yang akan menghadapi regu tembak. Kita berharap pandemi ini akan berakhir, vaksinasi selesai dan herd immunity (kekebalan kelompok) terbentuk. Dan setelah itu keadaan pelan-pelan bisa kembali seperti semula. Itu harapan kita semua,” katanya.

Antara pengusaha hotel dan restoran, menurut pemegang sertifikat  CHA (Certified Hotel Administrator) dari American Hotel & Lodging Institute  ini, kondisi pengusaha restoran sedikit lebih baik. Soalnya pengusaha hotel terpaksa mem-PHK (pemutusan hubungan kerja) 50 persen karyawannya untuk bertahan, sementara pengusaha restoran cuma 30-40 persen saja. “Kalau restoran masih ada pemesanan online. Itu yang bisa menjadi pengaman buat mereka sehingga masih bisa bertahan meski pandemi masih melanda,” papar Hariyadi kepada Edy Suherli dan  dari VOI yang mewawancarainya secara virtual belum lama berselang. 

Baca selengkapnya di: Eksklusif, Hariyadi Sukamdani: Pengusaha Hotel Seperti Pesakitan Menunggu Regu Tembak