Berita Sleman: Sleman Menyiapkan Dua Anggaran Untuk Penanggulangan Bencana
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Foto ANTARA

Bagikan:

YOGYAKARTA - Dua anggaran guna penanggulangan dan penanganan dampak bencana alam yang terjadi di wilayah itu telah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Dalam penanganan bencana, Pemkab Sleman mempersiapkan dua anggaran yaitu Biaya Tidak Tetap (BTT) dan anggaran bantuan bencana sesuai Peraturan Bupati (Perbup) No. 37," kata Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa di Sleman, Selasa.

Dua Anggaran Untuk Penanggulangan Bencana

Menurut dia, saat ini Pemkab Sleman sedang mengkaji bantuan kerusakan akibat dampak bencana alam sebesar 100 persen bagi warga tidak mampu.
"Pemberian bantuan pada warga terdampak bencana dulu mendapat bantuan 30 persen dari kerusakan, baru kita kaji untu bisa 100 persen bagi warga tidak mampu karena secara geografis Sleman rawan bencana dan tidak tahu datangnya sehingga harus disiapkan langkah penanganannya," katanya.

Ia mengatakan, saat ini Pemkab Sleman juga telah melakukan langkah antisipasi dampak cuaca ekstrem tahun ini pada destinasi pariwisata akibat dari peningkatan curah hujan.

"Kami sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan langkah antisipasi kemungkinan terjadinya bencana akibat cuaca ekstrem tahun ini," katanya.

Danang mengatakan, berhubungan penanggulangan musibah di destinasi tamasya, Pemkab Sleman sudah memperkenalkan surat edaran tiap destinasi tamasya dengan adanya imbas musibah hidrometeorologi untuk melaksanakan kesiapsiagaan dan edukasi pada aktivis tamasya untuk mempersiapkan diri apabila ada musibah datang.

Kepala BidangKedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, Kabupaten Sleman dikala ini mempunyai ancaman multi hazard. Ancaman musibah itu merupakan hidrometeorologi, pancaroba dan COVID-19.

"Untuk antisipasi kami sudah menyiapkan 'Early Warning System' (EWS) di 16 titik dan sensor curah hujan di puncak Gunung Merapi serta empat titik EWS di area rawan longsor Kecamatan Prambanan," katanya yang dikutip VOI dari ANTARA.

Makwan menambahkan pihaknya juga sudah mempersiapkan 69 personel meliputi Tim Reaksi Cepat (TRC) , operator Pusdalop, operator EWS dan logistik yang siap 24 jam mempersiapkan penanganan ancaman bencana hidrometerologis.

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Reni Kraningtyas meminta masing-masing daerah di DIY untuk meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinannya munculnya bencana hidrometeorologi pada musim hujan 2021-2022.

Menurut dia, sejak September dasarian III 2021, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah telah melewati ambang batas La-Nina dengan nilai anomali pada dasarian III September 2021 : -0.63°C, dasarian I Oktober 2021 : -0.61°C, dasarian II Oktober 2021 : -0.92°C.

"Indeks Enso bulan Oktober 2021 sebesar -0.83°C menunjukkan ENSO dalam kondisi prasyarat La-Nina Lemah. Diprakirakan fenomena ENSO La-Nina Lemah dan dimungkinkan menjadi La-Nina Moderat berlangsung hingga awal tahun 2022," katanya.

Ia mengatakan, pengaruh La-Nina di wilayah DIY berdampak pada peningkatan intensitas curah hujan bulanan di atas normalnya atau rata ratanya, diawal musim hujan Oktober-November 2021 akan memberikan dampak yang cukup tinggi yakni sekitar 60 persen.
"Sedangkan jika La-Nina masih berlanjut hingga musim hujan (Des 2021- Jan 2022 - Feb 2022) maka dampak La-Nina akan semakin turun yakni sekitar 20-60 persen, " katanya.

Reni mengatakan bahwa perlu diperhatikan meskipun persentase peningkatan curah hujan relatif lebih kecil, namun dampak terhadap peningkatan bencana hidrometeorologi semakin tinggi terlebih di puncak musim hujan (Januari 2022).

"Terutama wilayah-wilayah yang rawan banjir dan longsor di wilayah DIY. Para pemangku kepentingan diharapkan dapat sedini mungkin mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah DIY," katanya.