Berita Puasa: Pemantauan Hilal di DIY Dipusatkan di POB Syekh Bela Belu Bantul
Ilustrasi- Pengamatan hilal (ANTARA FOTO)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta memusatkan "rukyatulhilal" atau pemantauan hilal di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangtritis, Kabupaten Bantul, Jumat sore, untuk menentukan mulai masuknya bulan Ramadhan 1443 Hijriah.

"Kami sekarang sudah punya gedung baru POB (Syekh Bela Belu), sehingga bisa langsung dioperasionalkan untuk pemantauan hilal," kata Kepala Kanwil Kemenag DIY Masmin Afif di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Masmin, pengamatan hilal dilakukan dengan menggunakan satu teropong bintang milik Badan Hisab Rukyat (BHR) Kanwil Kemenag DIY seperti yang dikutip VOI dari ANTARA.

Pemantauan Hilal di DIY

Kegiatan rukyatulhilal Ramadhan 1443 Hijriah tersebut diikuti 40 peserta dari unsur Kemenag, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, PW Muhammadiyah DIY, Pengadilan Agama dan Badan Hisab Rukyat (BHR), Lembaga Kajian Astronomis Yogyakarta, serta perwakilan sejumlah perguruan tinggi di DIY.

Mengingat masih dalam masa pandemi, kata dia, pelaksanaan tetap mematuhi protokol kesehatan, sehingga sebagian besar peserta cukup menyaksikan pemantauan hilal melalui layar monitor yang disediakan di POB Syekh Bela Belu. "Tidak bisa semua ikut (mengamati dengan teropong) di atas," ujar Masmin.

Berdasarkan data astronomis BHR DIY di lokasi Yogyakarta pada Jumat ketinggian hilal diperkirakan pada posisi 1,8 derajat saat matahari terbenam.

Data dari BHR DIY tersebut menunjukkan bahwa hilal masih di bawah standar "imkanur" rukyat yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) untuk penetapan awal Ramadhan yang mensyaratkan tinggi minimal tiga derajat.

"Kalau menurut teori belum memenuhi, kan teorinya sekarang imkanur rukyat tiga derajat," kata dia.

Berdasarkan data itu, menurut Masmin, perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1443 Hijriah tahun ini, antara Muhammadiyah dengan pemerintah sangat mungkin terjadi. "Sangat bisa (berbeda)," ucap Masmin.

Meski demikian, lanjut Masim, keputusan penetapan awal Ramadhan menunggu hasil sidang isbat di Kemenag pusat.

"Mari kita sambut Ramadhan dengan hati yang gembira. Kalau mungkin ada perbedaan monggo silakan jangan sampai menjadi permasalahan di antara kita," kata dia.

Saatnya merevolusi pemberitaan di Jogja.Voi.id!